Sebuah Refleksi
Kita
mungkin pernah menyusun apa yang akan kita lakukan ke depannya, begitu rapi dan
tersusun dengan baik menurut idealnya pikiran kita, tapi ada kalanya dalam
perjalanan kita kemudian mencermati kembali detil demi detil perjalanan kita,
karna menyadari realitas tak selalu sejalan dengan idealitas dalam
pikiran-pikiran kita. Ide akan selalu bisa menampung hal-hal yang dalam realitas
objektif tidak memiliki eksistensi, tapi bagaimanapun juga apa yang kita
pikirkan selalu dimulai dari eksistensi kita dalam alam ini.
Seringkali
kita akan mengalami sebuah kondisi yang begitu mengacak-acak perasaan kita,
mengarahkan kita pada pesimisme seolah tiada ujungnya, gejolak yang luar biasa
seringkali terjadi antara perasaan dan
akal, sesuatu yang sebenarnya satu mengalami pertentangan yang luar biasa,
mungkin itulah dikatakan peran batin. Seringkali akal kita menemukan kebenaran
sesuatu tapi dalam perasaan tetap saja ada rasa tidak ingin. Dalam akal
mengenali prinsip benar dan salah, dan perasaan mengidentifikasi pada wilayah
emosional suka atau tidak suka, kita mengatakan benar tapi perasaan mengatakan
tidak suka, bagaimana mungkin kita bisa melakukan apa yang akal kita mengatakan
benar tapi perasaan kita mengatakan tidak suka.
Mungkin
memang benar jika ada yang mengatakan kalau musuh yang sesunguhnya sebenarnya
adalah diri kita sendiri. Seringkali yang terjadi adalah hal yang selalu
sebaliknya antara idealita dan realita.
Saya berada dalam masa di mana gejolak yang bertahun-tahun dalam batin
saya terus menghujam. Apakah saya masih dalam pencarian? mungkin disitulah
kebenarannnya, Perasaan adalah hal yang
paling sulit diidentifikasi lagi-lagi seringkali bertentangan dengan rasio, ini
bukan hal yang mengada-ada tapi setidaknya mutlak bagi saya dan bisa jadi bagi
orang lain hanya ketidaktahuannya atas apa yang terjadi dalam dirinya sendiri.
Tapi saya
juga menyadari kalau perasaan dan pikiran yang sedimikian rupa, mengantarkan
saya pada kemalasan yang mungkin bisa dikatakan kemalasan yang abadi. Lalu saya
mengatahui kondisi yang sedemikian rupa itu tidak baik buat saya dan saya
berusaha keluar dari kondisi demikian. Semakin banyak buku yang saya baca,
semakin sering saya mengikuti forum-forum untuk mencari pengetahuan, toh tidak
terjadi apa-apa, saya sangat menyadari apa yang saya alami justru mengantarkan
saya kepada jurang kesombongan dan keangkuhan, dan menjadi bahan-bahan kamuflase
saya di depan orang lain, dan kebenarannya adalah saya hanya menutupi
kekurangan yang saya sadari dalam diri saya, mungkin saya orang yang lebih
pantas dikatakan dengan hipokrit.
Mungkin
diam adalah lebih baik daripada membicarakan hal-hal yang seolah-olah kita
mengetahui seutuhnya, karena pada akhirnya menyakitkan diri kita sendiri. Ada sebuah
kalimat yang mungkin sudah terlampau klise tapi memang benar adanya yang
mengatakan jujurlah sekalipun itu pahit, kalimat itu penuh dengan makna yang
dalam, karena ketika kita melakukan kebohongan yang menjadi korban pertama
adalah diri kita sendiri. Obat yang rasanya pahit seringkali menjadi penyembuh,
dan gula yang rasanya manis justru menjadi sumber penyakit.
Aku
menemukan diriku yang sesungguhnya dan masih berjuang untuk keluar dari
kondisinya yang sebenarnya, ini sungguh-sunguh menyakitkan diri saya sendiri.
Semakin belajar semakin merasa bodoh, hidup ini hanya menjadi seolah-olah,
menjadi idealis itu menyakitkan. Tapi saya yang sedemikian rupa ini
menginginkan diri saya menjai cahaya lilin dalam gelapnya malam, sekalipun
redup tapi iya bisa bedakan cahaya dengan gelap, beda kebenaran dan kebatilan. Tak
ada yang lebih baik untuk diri kita selain berkata jujur meskipun pahit. Dan
hidup ini adalah perjuangan menuju kesempurnaan, dari potensialitas menuju
aktualitas, dari yang tak sempurna menuju kesempurnaan. Yang lebih mengenal
diri kita adalah diri kita sendiri bukan orang lain.
Makassar, 4 September 2013
Hanya Mau Menulis, Itu Saja!
Malam ini saya hanya ingin
menulis, menulis apa saja, meskipun menulis itu katanya tidak mudah, tapi saya
hanya ingin menulis, itu saja! Keinginan menulis itu hampir tiap hari ada.
Setiap saat saya sendiri, dipikiran saya hanya ingin menulis. Tapi apa yang
akan saya tulis, saya menjadi bingung sendiri. Saya seringkali melihat orang
menulis, membiarkan j
Dalam
sehari, semingu, atau berbulan-bulan tak menghasilkan tulisan. Perasaan itu kian
mengacaukan pikiranku, saya punya keinginan tapi tak melakukan apa-apa, bodohnya
saya. Perasaan itu menyerang lagi.
Saya sangat paham sebenarnya, jika
ingin menjadi penulis, perlu banyak membaca, berdiskusi dan tentunya menulis
itu sendiri. Tapi nyatanya yang kulakukan tak lebih membuang-buang waktu,
membicarakan banyak hal yang tak penting. Say pusing mau menuliskan apa, di pikran saya, saya tidak bisa menulis, tentu saja modalitas tak kumiliki. Diskusi memang
hampir tiap hari tapi yang saya bicarakan juga hal-hal yang tidak begitu
penting, Tidak mungkin menuliskan hal yang tidak penting, bagiku saja tidak
penting apalagi orang lain. Apalagi menulis pasti untuk dibaca. Ah.. Saya tidak bisa menulis!
Membaca juga saya malas, di rumah saya punya setumpukan buku lebih dari dua meter, mulai dari kuliah hukumku,
novel, analisis sosial, hingga buku filsafat sayapun punya. Tapi yang saya baca
hanya bebarapa, seringkali saya membaca tak fokus menganti buku satu dengan buku
lainnya meski belum paham dengan yang satu. Sering kali juga membaca tak
sampai habis meskipun tulisan yang singkat hanya berapa lembar saja. Memang
tiap hari saya membaca, tapi hanya kalimat-kalimat pendek di
jejaring sosial, selebihnya malas. Mana mungkin saya jadi penulis. Beberapa
kali saya mendapatkan dorongan untuk menulis, lalu mencari bacaan tentang
bagaimana menjadi seorang penulis, mengunjungi blog-blog para penulis dan
membaca tulisan-tulisan mereka.
Harapannya tentu saja ingin
seperti meraka menjadi seorang penulis, tapi yang saya dapatkan kalimat-kalimat
klise itu lagi, yang sebenarnya aku tau, mebaca, diskusi dan menulis itu sendiri. Mereka begitu mudah menulis, menyambung
pengetahuan mereka yang begitu banyak dari buku-buku yang pernah mereka baca.
Mana aku bisa seperti mereka, sedang aku tak suka mebaca, hanya mengoleksi buku
saja, ini sangat buruk. Ketika jalan ke mall aku tak pernah lupa untuk singgah
ke toko buku, membeli buku-buku tentang sesuatu yang aku ingin tau, bahkan
seringkali aku tak mimikirkan kantongku yang pas-pasan dan membeli buku, dan
sehabis itu aku baca hanya beberapa lembar saja lalu aku tinggalkan lagi
bersama tumpukan buku-buku yang lain. Pernah sekali aku kena teguran dari
kakakku karena kebiasaanku mebeli buku dan tak membacanya. Sekali lagi, bodohnya
saya!
Rasanya keinginan untuk menulis,
tak pernah padam, tapi lagi-lagi saya tak bisa menulis. Ahh…. saya tidak bisa jadi
penulis saya ini bodoh, malas membaca. Seandainya tumpukan bukuku menjelma menjadi tentara. Mereka pasti mebunuhku karena tak memberikan
perhatian pada mereka, kubiarkan mereka menjadi kertas-kertas tak berguna, beerdebu
dan usang.
Malam semakin larut, tapi saya tak
berbuat apa-apa, saya masih tak bisa menulis. Pikiranku melayang bagaikan
bunga-bunga ilalang yang tertiup angin, tak pernah bisa memilih dan tau dimana akan
terjatuh. Saya hanya membiarkan jari-jariku terus menari-nari di atas keyboard ini. Rasa bersalah masih
menyerangku, membuat hatiku semakin tersayat-sayat, perasaan yang terus saja
hadir tiap hari bagaikan hantu, menganggu pikiranku. Kaadaan ini justru
membuatku semakin malas. Saya ingin menulis tapi tak bisa menulis. Itu Saja!
Makassar,
27 Mei 2013 / 12:14 WITA
Begitu Mudah
Begitu Mudah
Kita mudah berkata
Seakan kita yakin akan ada selamanya
Kita buru-buru menjawab
Tapi tak sekalipun mencoba memaknainya
Kita merasa yang dirasakan akan sama seterusnya
Meski tak tau mengapa
Lalu timbullah tanya
siapa yang bisa memastikan yang akan terjadi selanjutnya?
Apakah Aku? Kamu? atau Dia?
Ataukah semuanya yang menjadi SATU (?)
Aku hanya bertanya
Dan pertanyaan selalu punya alasan.
Makassar, 7 Mei 2013
Ujian Nasional Harus Ditinjau Ulang
| Ahyar Anwar (Putih) menyampaikan pendapatnya terkait UN |
Makassar, Eksepsi Online - Penyelenggaraan
Ujian
Nasional (UN) Tahun 2013 dengan segala carut-marutnya mengemuka dalam
Diskusi Publik dengan tema “Meninjau Relevansi Ujian Nasional Terhadap
Tujuan Pendidikan,” Jumat (10/05). Kegiatan yang diadakan oleh Sekolah
Kami bekerjasama
dengan BEM Fakutas Satra Unhas, Lingkar Advokasi Mahasiswa Unhas, dan
Mahasiswa
Pancasila ini, berlangsung di Aula Prof. Matuladda Fakultas Sastra
Unhas.
Hadir
sebagai pembicara, Yusuf Nipi (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi
Selatan), Ahyar Anwar (Dosen Universitas Negeri Makassar), dan Zainal
Abidin (Dosen Universitas Negeri Makassar).
Kegiatan yang dimulai pukul 15.00 Wita diawali dengan pemutaran
film dokumenter pengakuan seorang anak Sekolah Dasar (SD) di Jakarta tentang
kecurangan yang terjadi saat ia mengikuti ujian nasional di Tahun 2011.
Carut marutnya penyelenggaraan UN Tahun 2013 telah menjadi rahasia
umum sehingga menuai kritik banyak kalangan, dan dianggap tidak dapat dijadikan
sebagai tolak ukur keberhasilan penyelenggaran pendidikan sehingga harus
ditiadakan. Yusuf Nipi yang terlibat langsung dalam penyelenggara UN tahun ini, mengakui bahwa penyelenggaraan UN 2013 sangat
amburadul, “UN yang baru saja dilaksanakan memang sangat amburadul,” akuinya.
Ia berpendapat bahwa ujian tetap harus dilakukan, karena standardisasi
penyelenggaraan pendidikan itu tetap perlu dan tetap harus memiliki indikator
pencapaian, namun yang menjadi permasalahan adalah perlu tidaknya ujian itu
dinasionalkan.
Menanggapi hal tersebut, Ahyar Anwar menjelaskan bahwa UN tidak
perlu lagi dilaksanakan, “UN tidak perlu lagi ada karena tidak sejalan dengan
kurikulum berbasis kompetensi yang diterapkan, bagaimana mungkin orang yang
telah dinyatakan lulus dan berkompetensi diberikan lagi UN yang justru
menentukan proses penddikanya selama beberapa tahun, itukan sangat tidak
logis,” Jelas Ahyar yang juga accesor sertifikasi guru.
Lain halnya dengan Zainal Abidin, ia menegaskan bahwa UN tetap
bisa dilakukan, tetapi ada syarat yang harus terpenuhi. Yakni, perbaikan
fasilitas pendidikan, peningkatan kompetensi guru sehinga berkualitas, dan
teciptanya lingkungan sosial yang baik bagi peserta didik. Kesemuanya itu harus
dilakukan secara merata di seluruh Indonesia. “Tanpa memperbaiki kualitas
pendidikan secara merata, UN menjadi tidak pantas dan tidak adil diadakan,
karena pada akhirnya menimbulkan masalah lain seperti kecurangan yang berdampak
buruk pada karakter peserta didik,” tegas Zainal di akhir diskusi.
Rahiwati Sanusi saat diwawancarai seusai diskusi, mengharapkan
agar mahasiswa berani menyatakan sikap menolak UN, “Saya berharap mahasiswa
berani menyatakan sikap menolak UN, dan forum ini bisa menyatukan gerakan
melakukan penolakan, karena sudah jelas UN tidak dibarengi dengan perbaikan
penyelengaraan sitem pendidikan secara menyeluruh dan merata,” harap Rahiwati
yang aktif melakukan aktifitas sosial pendidikan alternatif kepada anak-anak
yang kurang mampu di Sekolah Kami. (AAD)
Universitas Hasanuddin Sosialisasikan SBMPTN 2013
![]() |
www.sbmptn.or.id |
Makassar, Eksepsi Online - Universitas
Hasanuddin (UNHAS) mengadakan sosialisasi Seleksi Bersama Masuk Perguruan
Tinggi Negeri (SBMPTN) Tahun 2013, Rabu (8/5). Kegiatan yang berlangsung di
Gedung Pusat Kegiatan Penelitian Unhas, diikuti oleh puluhan peserta, Mulai
dari Kepala Sekolah, Guru hingga Siswa SMA dan sederajat seMakassar.
Sosialisasi tersebut dibawakan oleh Yusafir Hala yang mewakili Panitia Lokal
(Panlok) 82 UNHAS Makassar. Kegiatan yang dimulai pada Pukul 10.00 Wita diawali
dengan sambutan oleh Nur Ali Tahir selaku Ketua Panlok.
“Sosialisasi ini dilakukan selain merupakan
kegiatan tahunan, penerimaan Mahasiswa Baru PTN Tahun 2013 mengalami
perubahan dari tahun-tahun sebelumnya, baik dari segi istilah yang digunakan,
hingga sistem penerimaannya. Misalnya, dulunya dikenal istilah Jalur Undangan
sekarang SNMPTN, dan SNMPTN menjadi SBMPTN,” Ungkap Nur Ali Tahir dalam
sambutannya.
Yusafir Hala menjelaskan, SBMPTN akan
dilaksanakn oleh 62 PTN yang terbagi kedalam empat wilayah, dan UNHAS sendiri
berada dalam Wilayah IV. Ia menambahkan, SBMPTN diperuntukkan untuk calon
mahasiswa baru alumni Tahun 2013, 2012, dan 2011. Selain itu ujian yang akan
diberikan dibagi menjadi dua, yakni ujian tertulis dan ujian keterampilan.
“Ujian tertulis berlaku bagi semua peserta, sedangkan ujian keterampilan hanya
diperuntukkan bagi peserta yang memilih Program Studi Bidang Ilmu Seni dan
Keolahragaan,” Tambahnya.
Lebih lanjut Yusafir menjelaskan,
pendaftaran Jalur SPMBTN akan dilakukan secara online, dan akan dibuka
mulai dari tanggal 13 Mei pukul 08.00 WIB sampai dengan 7 Juni 2013 pukul
22.00 WIB melalui alamat website www.sbmptn.or.id.
“Semoga sosialisasi ini bisa bermanfaat dan pihak sekolah dapat
mensosialisaikannya di sekolahnya masing-masing,” harap Yusafir. (AAD)
