Posted by : Sang Aziz Rabu, 04 September 2013


Kita mungkin pernah menyusun apa yang akan kita lakukan ke depannya, begitu rapi dan tersusun dengan baik menurut idealnya pikiran kita, tapi ada kalanya dalam perjalanan kita kemudian mencermati kembali detil demi detil perjalanan kita, karna menyadari realitas tak selalu sejalan dengan idealitas dalam pikiran-pikiran kita. Ide akan selalu bisa menampung hal-hal yang dalam realitas objektif tidak memiliki eksistensi, tapi bagaimanapun juga apa yang kita pikirkan selalu dimulai dari eksistensi kita dalam alam ini.

Seringkali kita akan mengalami sebuah kondisi yang begitu mengacak-acak perasaan kita, mengarahkan kita pada pesimisme seolah tiada ujungnya, gejolak yang luar biasa seringkali terjadi antara  perasaan dan akal, sesuatu yang sebenarnya satu mengalami pertentangan yang luar biasa, mungkin itulah dikatakan peran batin. Seringkali akal kita menemukan kebenaran sesuatu tapi dalam perasaan tetap saja ada rasa tidak ingin. Dalam akal mengenali prinsip benar dan salah, dan perasaan mengidentifikasi pada wilayah emosional suka atau tidak suka, kita mengatakan benar tapi perasaan mengatakan tidak suka, bagaimana mungkin kita bisa melakukan apa yang akal kita mengatakan benar tapi perasaan kita mengatakan tidak suka.

Mungkin memang benar jika ada yang mengatakan kalau musuh yang sesunguhnya sebenarnya adalah diri kita sendiri. Seringkali yang terjadi adalah hal yang selalu sebaliknya antara idealita dan realita.  Saya berada dalam masa di mana gejolak yang bertahun-tahun dalam batin saya terus menghujam. Apakah saya masih dalam pencarian? mungkin disitulah kebenarannnya,  Perasaan adalah hal yang paling sulit diidentifikasi lagi-lagi seringkali bertentangan dengan rasio, ini bukan hal yang mengada-ada tapi setidaknya mutlak bagi saya dan bisa jadi bagi orang lain hanya ketidaktahuannya atas apa yang terjadi dalam dirinya sendiri.

Tapi saya juga menyadari kalau perasaan dan pikiran yang sedimikian rupa, mengantarkan saya pada kemalasan yang mungkin bisa dikatakan kemalasan yang abadi. Lalu saya mengatahui kondisi yang sedemikian rupa itu tidak baik buat saya dan saya berusaha keluar dari kondisi demikian. Semakin banyak buku yang saya baca, semakin sering saya mengikuti forum-forum untuk mencari pengetahuan, toh tidak terjadi apa-apa, saya sangat menyadari apa yang saya alami justru mengantarkan saya kepada jurang kesombongan dan keangkuhan, dan menjadi bahan-bahan kamuflase saya di depan orang lain, dan kebenarannya adalah saya hanya menutupi kekurangan yang saya sadari dalam diri saya, mungkin saya orang yang lebih pantas dikatakan dengan hipokrit.

Mungkin diam adalah lebih baik daripada membicarakan hal-hal yang seolah-olah kita mengetahui seutuhnya, karena pada akhirnya menyakitkan diri kita sendiri. Ada sebuah kalimat yang mungkin sudah terlampau klise tapi memang benar adanya yang mengatakan jujurlah sekalipun itu pahit, kalimat itu penuh dengan makna yang dalam, karena ketika kita melakukan kebohongan yang menjadi korban pertama adalah diri kita sendiri. Obat yang rasanya pahit seringkali menjadi penyembuh, dan gula yang rasanya manis justru menjadi sumber penyakit.


            Aku menemukan diriku yang sesungguhnya dan masih berjuang untuk keluar dari kondisinya yang sebenarnya, ini sungguh-sunguh menyakitkan diri saya sendiri. Semakin belajar semakin merasa bodoh, hidup ini hanya menjadi seolah-olah, menjadi idealis itu menyakitkan. Tapi saya yang sedemikian rupa ini menginginkan diri saya menjai cahaya lilin dalam gelapnya malam, sekalipun redup tapi iya bisa bedakan cahaya dengan gelap, beda kebenaran dan kebatilan. Tak ada yang lebih baik untuk diri kita selain berkata jujur meskipun pahit. Dan hidup ini adalah perjuangan menuju kesempurnaan, dari potensialitas menuju aktualitas, dari yang tak sempurna menuju kesempurnaan. Yang lebih mengenal diri kita adalah diri kita sendiri bukan orang lain. 

Makassar, 4 September 2013

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Labels

Pengunjung

Pengikut

- Copyright © Sang Aziz - Metrominimalist - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -