- Back to Home »
- Serpihan »
- Hanya Mau Menulis, Itu Saja!
Posted by : Sang Aziz
Selasa, 28 Mei 2013
Malam ini saya hanya ingin
menulis, menulis apa saja, meskipun menulis itu katanya tidak mudah, tapi saya
hanya ingin menulis, itu saja! Keinginan menulis itu hampir tiap hari ada.
Setiap saat saya sendiri, dipikiran saya hanya ingin menulis. Tapi apa yang
akan saya tulis, saya menjadi bingung sendiri. Saya seringkali melihat orang
menulis, membiarkan j
Dalam
sehari, semingu, atau berbulan-bulan tak menghasilkan tulisan. Perasaan itu kian
mengacaukan pikiranku, saya punya keinginan tapi tak melakukan apa-apa, bodohnya
saya. Perasaan itu menyerang lagi.
Saya sangat paham sebenarnya, jika
ingin menjadi penulis, perlu banyak membaca, berdiskusi dan tentunya menulis
itu sendiri. Tapi nyatanya yang kulakukan tak lebih membuang-buang waktu,
membicarakan banyak hal yang tak penting. Say pusing mau menuliskan apa, di pikran saya, saya tidak bisa menulis, tentu saja modalitas tak kumiliki. Diskusi memang
hampir tiap hari tapi yang saya bicarakan juga hal-hal yang tidak begitu
penting, Tidak mungkin menuliskan hal yang tidak penting, bagiku saja tidak
penting apalagi orang lain. Apalagi menulis pasti untuk dibaca. Ah.. Saya tidak bisa menulis!
Membaca juga saya malas, di rumah saya punya setumpukan buku lebih dari dua meter, mulai dari kuliah hukumku,
novel, analisis sosial, hingga buku filsafat sayapun punya. Tapi yang saya baca
hanya bebarapa, seringkali saya membaca tak fokus menganti buku satu dengan buku
lainnya meski belum paham dengan yang satu. Sering kali juga membaca tak
sampai habis meskipun tulisan yang singkat hanya berapa lembar saja. Memang
tiap hari saya membaca, tapi hanya kalimat-kalimat pendek di
jejaring sosial, selebihnya malas. Mana mungkin saya jadi penulis. Beberapa
kali saya mendapatkan dorongan untuk menulis, lalu mencari bacaan tentang
bagaimana menjadi seorang penulis, mengunjungi blog-blog para penulis dan
membaca tulisan-tulisan mereka.
Harapannya tentu saja ingin
seperti meraka menjadi seorang penulis, tapi yang saya dapatkan kalimat-kalimat
klise itu lagi, yang sebenarnya aku tau, mebaca, diskusi dan menulis itu sendiri. Mereka begitu mudah menulis, menyambung
pengetahuan mereka yang begitu banyak dari buku-buku yang pernah mereka baca.
Mana aku bisa seperti mereka, sedang aku tak suka mebaca, hanya mengoleksi buku
saja, ini sangat buruk. Ketika jalan ke mall aku tak pernah lupa untuk singgah
ke toko buku, membeli buku-buku tentang sesuatu yang aku ingin tau, bahkan
seringkali aku tak mimikirkan kantongku yang pas-pasan dan membeli buku, dan
sehabis itu aku baca hanya beberapa lembar saja lalu aku tinggalkan lagi
bersama tumpukan buku-buku yang lain. Pernah sekali aku kena teguran dari
kakakku karena kebiasaanku mebeli buku dan tak membacanya. Sekali lagi, bodohnya
saya!
Rasanya keinginan untuk menulis,
tak pernah padam, tapi lagi-lagi saya tak bisa menulis. Ahh…. saya tidak bisa jadi
penulis saya ini bodoh, malas membaca. Seandainya tumpukan bukuku menjelma menjadi tentara. Mereka pasti mebunuhku karena tak memberikan
perhatian pada mereka, kubiarkan mereka menjadi kertas-kertas tak berguna, beerdebu
dan usang.
Malam semakin larut, tapi saya tak
berbuat apa-apa, saya masih tak bisa menulis. Pikiranku melayang bagaikan
bunga-bunga ilalang yang tertiup angin, tak pernah bisa memilih dan tau dimana akan
terjatuh. Saya hanya membiarkan jari-jariku terus menari-nari di atas keyboard ini. Rasa bersalah masih
menyerangku, membuat hatiku semakin tersayat-sayat, perasaan yang terus saja
hadir tiap hari bagaikan hantu, menganggu pikiranku. Kaadaan ini justru
membuatku semakin malas. Saya ingin menulis tapi tak bisa menulis. Itu Saja!
Makassar,
27 Mei 2013 / 12:14 WITA